Cukup ‘Terimakasih’

Saya pernah membaca buku ‘Nice Girls Don’t Get The Corner Office’, yang mengatakan bahwa salah satu kelemahan seorang pemimpin wanita adalah merendah, atau dalam buku tersebut dikatakan ‘Penggunaan kata yang mengecilkan arti’. Perempuan cenderung untuk ‘menyembunyikan’ prestasinya, dengan berkata ‘Ah..saya cuma menjadi manager di perusahaan kecil, gak gitu terkenal kok” atau “saya juara 1 sih, tapi itu cuma kebetulan”. Pernyatan tersebut, seberapa hebatnya kita, tetapi jika dideskripsikan dengan kata-kata seperti ‘cuma’, maknanya pun menjadi remeh temeh. Di dalam buku tersebut dikutip bahwa ada seorang kakek yang membanggakan cucu perempuannya, tetapi setelah ditanya, ia malah menjawab ‘Ah..hanya penghargaan Golden State’. Mungkin saja itu sebuah penghargaan hebat, tetapi ketika ia berkata ‘hanya’, artinya langsung terasa rendah. Kita saja tidak memandang hal tersebut penting, bagaimana orang lain? Setelah saya sadari, ‘dosa’ tersebut juga sering saya lakukan. Secara keseluruhan, orang Indonesia pun sebenarnya juga banyak yang merendah saat dipuji (mencari pembenaran :p). Mungkin karena sedari kecil, kami diajarkan untuk tidak menjadi orang yang sombong, dan merendah adalah perwujudannya. Yang dalam buku ini dikatakan, akibat saat remaja diberikan petuah ‘Jangan sombong atau membual’.

Di sisi lain, ada orang-orang yang menyombongkan dan membesar-besarkan prestasi remeh temeh mereka. Perumpamaannya seperti seseorang yang mendeskripsikan bahwa ia pemenang lomba catur, yang untuk memenangkan pertandingan sengit tersebut, ia harus mengalahkan lawan yang tidak pernah terkalahkan selama ini. Padahal hanya lomba catur tingkat RT. Atau seakan-akan menjadi penyelenggara acara tingkat nasional yang bergensi, padahal hanya membantu untuk menyebarkan informasi tentang acara tersebut. Membuat orang berpikir bahwa mereka adalah orang-orang yang berprestasi dan patut diperhitungkan. Promosi diri yang terlalu berlebihan.

Lalu, sebaiknya menjadi orang tipe pertama atau kedua? Menjadi tipe kedua, yaitu melebih-lebihkan sesuatu, tentu bukan menjadi pilihan yang baik. Ketika nantinya ada seseorang yang terlanjur percaya dan memberikan pekerjaan maha penting karena percaya Anda mampu, tentu akan sangat merusak reputasi, jika kinerja yang ditunjukkan bahkan tidak sampai setengah yang diharapkan. Menjadi tipe pertama pun akan membuat Anda hanya dipandang sebelah mata, walaupun deretan penghargaan sudah Anda raih. Hal tersebut juga membuat Anda tidak menghargai hasil kerja keras Anda sendiri, seakan mengecilkan arti prestasi yang didapatkan. Seseorang pernah berkata, ketika ada yang memuji, cukup ucapkan “Terima kasih”, disitu berarti Anda mengakui dan menerima pujian tanpa membesar-besarkan. Mungkin pilihan terbaik adalah berada di tengah, tidak ekstrim ke kanan ataupun ke kiri. Bagaimana menurutmu?  

Sumber :

Frankel, L. P. (2004). Nice Girls Don’t Get The Corner Office : 101 Unconcious Mistakes Women Make That Sobotage Their Carrers. New York : Warner Books.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s