Mengapa harus akselerasi?

Hidup itu seperti kurva normal, sebagian besar berada di tengah, yang kita sebut rata-rata, dan ada sebagian kecil yang berada di bawah atau diatas rata-rata. Begitu juga dengan kecerdasan. Sebagian besar adalah orang-orang yang mendapat nilai 4,5,6,7* dalam hidupnya. Jika mujur, mereka mendapat 9*, jika sial, mereka mendapat 3*. Tapi seringkali angka rata-ratalah yang mereka dapat. Ada pula sekumpulan orang yang tidak perlu belajar pun, selalu mendapat nilai 10*. Di lain sisi, ada orang-orang yang betapa kerasnya berusaha, tetap mendapat nilai dibawah 5*. Perlakuan, dalam hal ini pendidikan, yang bisa diterapkan untuk anak rata-rata (yang biasa disebut anak normal), tentu saja tidak berlaku untuk golongan khusus ini. Sekolah luar biasa (SLB) dan program akselerasi dapat menjadi salah satu solusinya. Saya pernah punya seorang murid cerdas yang jika sesuai dengan umur kronologisnya masuk ke dalam playgroup dan memang ia masuk playgroup. Sayangnya, ia terus menerus membuat ulah yang menggangu temannya. Sekolah tradisional mungkin akan memarahi atau menghukum anak (yang tidak menjadi solusi atas permasalahan si anak, dan malah menyebabkan si anak menjadi ‘nakal’). Tapi di sekolah tempat saya bekerja tersebut, akhirnya, ia diputuskan untuk masuk TK, dan sejak itu keluhan atas dirinya pun semakin berkulang. Anak genius, seringkali merasa bosan dengan apa yang diajarkan padanya (yang menurut mereka terlalu lambat dan diulang-ulang), dan pada akhirnya melakukan tindakan yang menurut mereka menyenangkan, misalnya menggangu temannya. Disini guru harus jeli untuk melihat, motif dibalik tindakan anak untuk menggangu temannya. Dan akselerasi ternyata adalah jawaban yang tepat untuk kasus ini. Jadi jika saya simpulkan, akselerasi adalah program untuk anak dengan kecerdasan di atas rata-rata yang tidak dapat mengembangkan potensi dirinya di dalam kelas yang sesuai dengan umur kronologisnya.

Sayangnya, belakangan ini dengan berjamurnya program akselerasi di sekolah-sekolah, pemahaman yang keliru mengenai akselerasi pun berkembang. Orangtua yang merasa bahwa anaknya sangat pintar memaksa anaknya untuk akselerasi, padahal belum tentu pilihan tersebut bijak untuk anaknya. Katakanlah, anak yang selalu mendapat 8*, sementara rata-rata anak mendapat nilai 7*. Apakah ia diatas rata-rata? Ya, tapi tidak cukup untuk mengatakan bahwa ia sesuai untuk masuk program akselerasi. Karena masih ada syarat kedua, yaitu apakah ia TIDAK dapat mengembangkan potensi dirinya di kelas tersebut. Mungkin saja, anak ini lebih dari rata-rata tetapi tidak cukup untuk mengatakan ia diatas rata-rata. Untuk menjadi anak diatas rata-rata, ia harus memiliki nilai 9*, dan mengingat nilainya hanya 8*, berarti ia harus bekerja ekstra keras untuk dapat setara dengan anak-anak diatas rata-rata yang lain, yang bukan tidak mungkin, malah menghambat potensinya.

Saat saya bekerja di sekolah, saya melihat banyak karakteristik orangtua murid. Satu yang menarik adalah mereka yang ingin agar anaknya loncat kelas ini. Di sekolah tersebut, saat penerimaan murid, anak-anak yang disaring akan menghadapi semacam psikotes dan orangtua murid pun akan diwawancara mengenai anak. Hasilnya akan ditulis dalam sebuah file, dan akan ditaruh di kelas dimana ia berada. Tujuannya agar siapapun gurunya, akan tahu karakteristik dasar anak dengan melihat profil singkatnya. Selain itu, agar tepat menaruh anak di kelas yang sesuai dengan tipe belajarnya (kelas dibagi menjadi auditori, visual, atau kinestetik). Saat akhir sekolah, laporan akhir murid ditulis secara lengkap, baik berupa huruf, deskripsi, dan foto kegiatan yang memperkuat nilai akhir tersebut. Penilaian disini dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya kognitif saja, tetapi juga emosial, hubungan sosial, dsb. Di setiap kelas pun ada minimal 2 guru, yang berarti dapat memperkuat validitas atas penilaian sekolah atas seorang murid, yaitu dengan interobserver (misalnya jika 1 guru memberikan penilaian yang salah pada seorang anak, ada guru lain yang dapat menjaga agar tidak terjadi kesalahan tersebut). Di sekolah tersebut, bukanlah hal yang janggal melihat anak-anak loncat kelas atau shadow teacher untuk membantu anak berkebutuhan khusus, didasarkan dari laporan akhir murid tersebut. Dengan adanya sistem serapih itu, pertanyaan yang muncul di dalam pikiran saya adalah, mengapa masih ada orangtua yang keukeuh ingin anaknya akselerasi, walaupun sekolah tidak menyatakan/menyarankan hal tersebut?   

Salah satu contoh adalah orangtua yang memaksa anaknya untuk masuk ke TK-B, dari playgroup, padahal seharusnya ia masuk ke TK-A. Perubahan yang begitu drastis, dari jam pelajaran yang sangat panjang, postur tubuh teman yang lebih tinggi, perbendaharaan kata dan pola pikir yang berbeda, dll, membuat ia kurang dapat beradaptasi. Ia, yang tadinya merupakan anak yang aktif saat di playgroup, berubah menjadi anak yang butuh penjelasan lebih dibandingkan teman-teman sekelasnya, sampai akhirnya ia mengerti apa yang diajarkan guru. Ia pun terlihat kurang antusias belajar dibandingkan teman-teman sekelasnya. Dan mungkin hal ini tidak terjadi jika ia tidak loncat kelas.   

Orangtua adalah orang yang paling dekat dengan hidup anak, tetapi bukan berarti hal tersebut menjadi jaminan bahwa orangtua adalah orang yang paling mengerti anak. Terkadang ekspektasi dapat menghalangi objektifitas dari orangtua paling rasional sekalipun. Dan mengingat orangtua memiliki hak preogratif untuk kebaikan anaknya, bijaksanalah dalam menggunakan hal tersebut. Karena pilihan orangtua, akan menentukan masa depan anak, sekecil apapun itu..

*nilai tersebut hanya perumpamaan agar pembaca mudah memvisualisasikan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s