Jurnalistik Online

Tahun lalu (basi juga ya ;p) saya datang ke pelatihan jurnalistik online yang diadakan oleh Akademi Berbaginya mbak Ainun Chomsun. Bertempat di kantor detik.com milik Budiono Darsono (yang akrab disapa BDI), saya dan teman-teman lainnya mendapat berbagai macam teori sampai praktek berkisar jurnalistik online langsung dari BDI. Kenapa saya tertarik? Karena : 1) memang saya tertarik dengan jurnalistik, 2) saat ini jurnalistik online sudah mulai menjadi tren, dan 3) keunikan yang ditawarkan jurnalistik online yang berbeda dengan jurnalistik pada umumnya. Saya coba rangkum pelajaran yang saya dapat saat itu ya. Disini contoh yang dipaparkan lebih banyak memakai kejadian sehari-hari yang ada di detik.com *yaiyalah*

Apa saja sih perbedaan jurnalistik online dengan jurnalistik pada umumnya?

–          Tidak ada deadline

Masuk ke dalam jurnalistik online otomatis berarti masuk ke dalam dunia online yang serba cepat. Tidak mungkin deadline harian, mingguan, bahkan tahunan diberlakukan disini. Setiap hari, peristiwa menarik yang terjadi disekitar, harus diberitakan, bahkan obrolan ‘hot’ di twitter pun dapat menjadi bahan berita. Jadi tidak ada deadline, karena setiap saat berarti deadline, berita dilaporkan sejak detik pertama suatu kejadian terjadi. Mereka harus ‘melek 24 jam’, artinya mereka harus siap sedia kapanpun dibutuhkan (sama seperti wartawan pada umumnya). Tapi bukan berarti wartawan jurnalistik online seperti zombie yang tidak tidur dan haus mencari berita. Saya tidak tahu persis bagaimana mekanismenya, mungkin ada shift-shiftnya. Bekerja di detik.com pun tidak mesti ada di kantor setiap hari, malah diharapkan agar tidak sering-sering di kantor, agar tidak menghabis-habiskan ruangan, tapi wajib untuk hadir hari Jumat malam untuk evaluasi, silahturahmi, dan yang paling penting, ambil gaji.    

–          Susunan redaksi

Susunan redaksinya lebih simple dari media pada umumnya. Yaitu pemred membawahi kabiro dan redpel. Kabiro ini yang bertugas untuk mengatur penempatan reporter di spot-spot tertentu pada jam tertentu untuk melihat adanya peristiwa yang bisa diberitakan. Di kantor detik.com, ada GPS yang bisa memantau keberadaan para wartawan ini. Kalau ada kejadian yang bisa diliput, langsung dicari melalui GPS siapa yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian dan selanjutnya diminta meliput. Nah, saya lupa nih reporter dan penulis itu satu orang atau tidak, tapi kalau 2 orang, berarti liputan reporter ditulis oleh penulis, dicek oleh redpel. Atas persetujuan pemred diterbitkan deh artikelnya. Dan ini dilakukan dengan cepat ya. Berbeda dengan media pada umumnya yang bisa memakan waktu beberapa hari, hanya untuk ke satu tempat saja.   

–          Prinsip 5W1H masih perlu gak ya?

Prinsip jurnalistik yang harus dipegang adalah 5W1H dan jurnalistik online pun juga memegang teguh prinsip ini. Tetapi, karena media ini bergerak secara cepat, terkadang saat pertama kali memuat berita hanya ada beberapa yang dapat dipenuhi, tetapi setidaknya memenuhi 3 unsur W. Lalu seiring dengan berjalannya waktu, informasi yang diperoleh semakin kaya, beberapa prinsip lain bisa dipenuhi seiring pemuatan berita lanjutan. Misalnya, saat ada peristiwa bom Mariot untuk pertama kalinya. Mustahil, wartawan yang ada disana langsung mengetahui jumlah korban. Sehingga, saat pertama kali pembuatan berita yang dilaporkan adalah kejadiannya bom meledak (what), di Mariot (where), terjadi pada siang hari (when). Selanjutnya ketika ada polisi berdatangan, kejadian tersebut dapat diberitakan menjadi berita kedua. Selanjutnya, waktu persis sampai ke detik sudah ketahuan, sehingga dapat diberitakan menjadi berita keempat. Lalu satu jam kemudian, nama-nama korban sudah dapat diketahui, sehingga dapat menjadi berita keempat, dst. Kalau di media cetak, tidak mungkin kan hal ini bisa terjadi? Biasanya baru diterbitkan di berita esok hari sehingga informasi sudah akurat dalam satu artikel, walaupun penyampainnya lebih lambat.  

–          Cover Both Side

Di media lain pun wajib hukumnya untuk cover both side. Bedanya, dimedia cetak, biasanya konfirmasi hanya 1 alinea, sedangkan di jurnalistik online, dimungkinkan klarifikasi dari pihak lain tidak seketika dan tampil dalam jumlah sendiri, serta tidak dibatasi kuantitas. Bahkan ada pihak yang sengaja meminta konfirmasi dirinya ditampilkan dalam satu artikel penuh. Misalnya, seseorang yang sudah dijadikan tersangka, setelah dikonfirmasi, berita penangkapannya diterbitkan lebih dulu, baru esoknya baru konfirmasi tersangka atas penangkapan dirinya dalam satu artikel tersendiri.   

–          Tidak pernah menghapus suatu berita

Bahkan, di detik.com sudah diprogram artikel yang dipublish tidak akan pernah di-delete. Oleh karena itu dibutuhkan ketelitian dan keakuratan sebelum memosting berita. Pernah ada, seorang wartawan detik.com yang sedang dalam perjalanan pulang. Di depan Universitas Pancasila ada kemacetan. Karena ia naik taxi, ia bertanya pada orang disekitar , dan dijawab kemacetan disebabkan oleh tawuran mahasiswa. Ia mencoba mericek ke polres, tetapi tidak diangkat-angkat, akhirnya ia menulis artikel tentang tawuran tersebut. Esoknya dicek ternyata penyebab kemacetan tersebut adalah bazar. Wartawan tersebut akhirnya dipecat. Jadi, sebelum memuat sebuah berita, harus dicek dulu ke sumber terpercaya, misalnya turun ke lokasi kejadian.  

–          Gadget canggih

Nah, ini yang seru. Wartawan online harus dilengkapi peralatan super canggih, karena mereka langsung menulis dan mengupload berita di tempat kejadian (tetap diperiksa kembali oleh redpel), gak heran mereka harus update teknologi. Kan tidak lucu, kalau dikasih gadget paling canggih tapi tidak tahu cara menggunakannya. Waktu saya kesana kabarnya para wartawan mau dikasih iPad juga, tapi gak tahu jadi atau tidak. Yang terakhir digunakan adalah BB dan iPhoen (HP berkamera) dan juga kamera canggih. Wartawan jurnalistik online juga harus multitasking, mereka harus paham cara wawancara dan menulis berita (seperti jurnalis pada umumnya), tapi juga harus bisa mengambil gambar (foto/video) karena mobilitas yang sangat cepat dan tidak bisa selalu mengandalkan fotografer, serta (pastinya) harus dapat menggunakan aneka teknologi informasi. Masuk ke dunia yang membutuhkan komunikasi secara cepat dengan berbagai pihak ini membuat wartawannya tidak boleh kehabisan pulsa, bahkan ada staf khusus yang mengurus pulsa para wartawan di detik.com ini.

Yang selanjutnya dibahas adalah prinsip-prinsip jurnalistik umum yang sudah ada. Tapi mari untuk merefresh ingatan. Prinsip dasar yang harus dijaga adalah : akurat, seimbang, jujur dan adil, kepentingan umum, peka terhadap masalah yang dapat menyebabkan ketersinggungan, hindari penekanan yang tidak perlu (ras, agama, etnik, gender, dll), hak privasi, ketersediaan untuk mengakui dan meluruskan kesalahan. Wartawan juga perlu untuk menguji akurasi, elemen utamanya mencermati fakta dan detil.

Wartawan, dalam menulis, tidak boleh menebak / mengira-ngira, harus memegang betul apa saja yang harus diketahui dan apa saja yang dimengerti. Jika tidak benar-benar memahami, cek kembali hal tersebut atau tinggalkan sama sekali.

Cek dua kali semua angka dan jumlah. Jika ada perbedaan angka pada sumber yang berbeda, maka harus ditulis secara lengkap. Misalnya : gempa menewaskan xx orang menurut Depkes. Penulis juga harus meletakkan angka ke dalam konteks yang mudah dipahami, agar memiliki makna. Misalnya, penonton konser sebanyak 7.000 orang. Tanpa adanya keterangan tempat (di tenis indoor atau stadion utama utama senayan) atau kalimat, seperti ‘penonton berdesak-desakkan..”, maka angka 7.000 tidak memiliki makna.   

Tidak ada orang yang suka namanya ditulis salah, oleh karena itu nama, tanggal dan tempat harus dicek secara seksama. Letakkan kalender di depan mata. Tulis tempat dengan tepat. Lihat peta untuk menunjukkan posisi tempat yang kita tulis, untuk memberikan gambaran kepada pembaca secara tepat tentang lokasi yang kita tulis.

Harus berhati-hati dengan kutipan. Jika tidak yakin catatan kita benar dan berani mempertahankan sampai ke pengadilan, lebih baik dijelaskan dengan kata-kata sendiri saja.

Jangan sampai melakukan kelalaian vital. Baca kembali cerita melalui kacamata seseorang yang benar-benar asing terhadap cerita. Bisa saja, ternyata kita tidak memberikan lokasi tepat terjadinya penembakan, atau tidak menyebutkan secara jelas berapa kedalaman air ketika sebuah bus terjun ke sungai.

Alasan untuk keterburu-buruan, seperti ‘maaf, saya tidak punya waktu untuk mengecek kembali’, tidak dapat diterima. Jika misalnya sudah lelah, lebih baik bilang agar bisa digantikan dengan orang lain, atau jika memang masih ingin meliput, bisa dicarikan wartawan lain sebagai pendamping peliputan.

Sediakan waktu untuk melakukan riset kecil, kemudian cek kembali melalui pakar yang dapat dipercaya. Hal ini untuk menghindari kesalahan-kesalahan teknis, sehubungan dengan tulisan khusus atau jargon-jargon iptek, hukum, kedokteran, keuangan, dan sejenisnya.

Manipulasi, perubahan, konteks, distorsi, pemaparan yang salah, kebencian, dana atau berita bohong itu sangat tinggi ongkosnya, sementara hasilnya rendah. Jadi tahu kan apa yang harus dilakukan?

Walaupun online terkesan bebas, tetapi hal ini tidak berlaku di jurnalistik online. Contohnya, di detik.com, ada berita yang memang disetting untuk tidak bisa dikomentari, misalnya karena dikhawatirkan akan menimbulkan konflik karena komentar SARA. Misalnya : tentang pastur yang ingin membakar Al-Quran.  

Nah, tadi di awal sempat saya singgung soal ‘Akademi berbagi’. Untuk yang penasaran sebenarnya makhluk apakah itu, bisa follow twitternya di @akademiberbagi atau langsung ke websitenya. Akademi, yang awalnya dicetuskan oleh Mbak Ainun ini, memiliki bermacam topik di setiap kelasnya dengan berbagai variasi, seperti social media, keuangan, dan periklanan. Prinisp “Berbagi itu gak pernah rugi” benar-benar terasa secara nyata. Peserta tidak dipungut biaya sepeserpun. Bahkan mendapat banyak pengetahuan, inspirasi, atau bahkan ide-ide baru untuk juga berbagi dengan sama, yang didapat dari hal sesederhana berbagi ilmu. Yuk, kita juga tularkan semangat berbagi 🙂

Iklan

2 thoughts on “Jurnalistik Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s