Everybody Change

Waktu kecil, entah dari mana asal mulanya. Saya punya cita-cita. Saya ingin menjadi penulis, bekerja di rumah sambil mengurus anak. Suami bekerja di kantor. Kami mempunyai halaman yang cukup luas dan membangun rumah lagi disebelah rumah kami. Rumah harapan. Rumah itu memiliki banyak kamar-kamarnya dan ditengah-tengah ada ruangan kosong. Lalu, nantinya saya ingin mengambil beberapa anak-anak jalanan, meminta mereka memperkenalkan saya dengan ayah-ibunya. Lalu memboyong mereka ke rumah baru di sebelah rumah saya tersebut. Sepuluh keluarga mungkin. Lalu para ibu diajarkan membuat kue di ruang tengah yang kosong. Kue sus, bisa jadi. Lalu saya fasilitasi untuk membuat toko kue bersama-sama. Sang ayah, akan disalurkan menjadi satpam atau supir teman-teman keluarga yang membutuhkan. Sementara sang anak, bersekolah dengan gaji ayah-ibu mereka yang sudah tetap. Sebagian gaji mereka akan saya simpan dan kumpulkan, lalu setelah cukup, dibuat untuk membangun rumah. Lalu mereka membangun rumah sendiri dengan jerih payah mereka, dan saya berharap mereka dapat memulai hidup baru, tanpa menggelandang lagi. Lalu para tuna wisma baru, masuk ke rumah menggantikan yang lama. Setidaknya, ada beberapa tuna wisma yang dapat ditolong untuk memulai hidup baru.

Beranjak dewasa, ada beberapa dari cita-cita tersebut yang akhirnya saya modifikasi. Entah karena pengalaman atau keinginan yang berubah. Cita-cita utama saya drastis berubah menjadi psikolog, dan bukan lagi penulis. Kriteria suami saya pun bukan lagi seperti papa Nobita yang berangkat jam 7 pagi dan pulang jam 7 malam. Setahun terakhir ini, saya berkenalan dengan orang-orang hebat, yang sukses menjadi entrepreneur. Sukses mengangkat derajat dirinya, dan hidup orang-orang yang membutuhkan uluran tangannya. Jadi, bukan masalah bekerja di dalam/membangun kantor, tetapi bagaimana ia berguna dan mencintai pekerjaan yang ia punya, yang pantas untuk menjadi kategori suami ideal. Cita-cita saya untuk para tuna wisma ini tetap sama, walaupun sepertinya saya akan menambahkan aksesoris ini dan itu, seperti pelatihan mengasuh anak bagi para ibu tuna wisma ini.

Ah ya, saya memutuskan untuk menuliskan cita-cita tersebut disini bukan tanpa maksud. Manusia bisa lupa pada tujuan awal. Jika nantinya saya menjadi orang sukses atau memiliki kebutuhan lain yang mendesak, cita-cita tersebut dapat menguap tanpa bekasnya dapat ditangkap. Ya, lupa tak berbekas. Manusia bisa berubah menjadi egois dengan berbagai alasan dan pembenaran, yang tetap saja salah. Setidaknya dengan menuliskan disini, saya ingat bahwa saya pernah punya cita-cita itu dan terus menggiring langkah saya untuk kembali kesana. Semoga..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s