Kita yang Muda, kita yang bisa!

 

Ada yang berbeda dengan COP 15 di Denmark kali ini. Untuk pertama kalinya konferensi perubahan iklim internasional itu dihiasi oleh wajah-wajah muda. Ya, COP 15 kali ini menjadi kali pertama generasi muda duduk sejajar dengan pemimpin dunia, dan mendapatkan kesempatan untuk berbicara di depan podium. Indonesia sendiri untuk pertama kalinya memberi kesempatan emas pada anak muda untuk menjadi delegasi ‘bayangan’ yang dapat mengikuti perundingan delegasi Indonesia, walaupun tetap belum boleh berbicara di depan umum. Teman-teman saya dari British Council pun dapat berbicara langsung dan menyampaikan suara anak-anak muda Indonesia langsung ke ketua delegasi Indonesia untuk COP 15, Rahmat Witoelar.  

Walaupun dalam COP 15 kali ini porsi anak muda untuk berbicara hanya sedikit, selebihnya hanya menjadi observer dalam kurun waktu 8 hari konferensi ini berlangsung. Tetapi satu hal yang sangat saya banggakan dan syukuri dari hal tersebut yaitu generasi muda sudah mulai diperhitungkan keberadaannya. Hal ini sebenarnya tidak mengherankan, mengingat nantinya yang akan merasakan dampak dari perubahan iklim adalah generasi muda ini sendiri. Beberapa tahun lagi, jika kita dapat mempertahankan, menurunkan, atau menaikkan suhu dunia, maka yang akan menerima dampak langsungnya adalah para generasi muda. Oleh karena itu, memang sangat penting hadirnya generasi muda berada dalam konferensi ini.   

Tidak hanya di dalam COP 15, para delegasi muda juga banyak melakukan aksi mereka di luar Bella Center (tempat COP 15 berlangsung). Berbagai aksi, dari mulai anarkis sampai aksi damai, digelar oleh persatuan pemuda di COP 15 yang menamakan diri YOUNGOS. Hal ini untuk memperlihatkan ‘suara’ mereka yang tidak dapat disuarakan di Bella Center, tetapi akhirnya gaungnya pun sanggup menembus gedung perhelatan COP 15 tersebut. Suara yang memperlihatkan kekecewaan mereka akan perundingan di COP 15 yang terkesan alot dan lambat. Suara yang menunjukkan kesedihan mereka saat para delegasi dari NGO (Non-Goverment Organization) sangat dibatasi akses masuknya ke Bella Center pada minggu kedua COP 15. Di dalam KlimaForum, tempat acara pendukung COP 15, para delegasi muda pun memainkan berbagai peranan penting dalam berbagai seminar, workshop, dan kelompok-kelompok diskusi yang berlangsung di dalam gedung Dgi Byen ini. Bahkan di penutupan KlimaForum, saya dibuat terkagum-kagum oleh pidato yang berapi-api dari salah seorang delegasi muda dari Afrika yang menyatakan kekecewaannya akan perundingan di COP 15 yang tidak membuahkan hasil yang memuaskan, tetapi ia juga berharap bahwa di COP 16 mendatang akan tercipta keputusan mengikat yang memuaskan semua pihak. Semangat yang dibawa oleh delegasi muda Afrika ini dapat sangat saya pahami, mengingat dampak perubahan iklim paling menohok Afrika. Krisis pangan dan air bersih adalah dua hal yang masih berlangsung di Afrika sampai sekarang, dan ini semua tidak terlepas dari pemanasan global, yang meningkatkan suhu Afrika secara signifikan dibandingkan benua lainnya. Di hari terakhir COP 15, YOUNGOS bersatu untuk membuat penutupan yang apik. Dibuka dengan ‘Fossil of the Year’ yang  menempatkan Kanada sebagai pemenang karena ‘prestasinya’ sebagai negara yang paling tidak mau berkomitmen untuk mengurangi pemanasan global. Piala diberikan pada seseorang yang kepalanya ditempel kepala presiden Kanada dengan diiringi suara ‘boo’ oleh para penonton. Acara ini dilakoni oleh para delegasi muda dari berbagai NGO yang merupakan penghargaan sindiran terhadap proses COP 15 yang terkesan lambat. Selanjutnya, YOUNGOS menyalakan 10.000 lilin sebagai tanda untuk meminta keadilan iklim (climate justice).

 Setelah COP 15 yang dinilai gagal dan tidak sesuai dengan harapan, YOUNGOS pun tanpa kenal istirahat langsung bergerak cepat dengan membentuk kelompok bernama ‘Bottomlining team’, yang langsung bekerja mulai dari sekarang untuk mempersiapkan COP 16 di Meksiko mendatang dengan matang. Hal ini sebagai evaluasi mereka atas COP 15 yang waktu persiapannya sangat sempit.

Semangat yang tidak pernah padam dari para delegasi muda pun saya rasakan di Indonesia. Walaupun tidak berhubungan dengan COP, tetapi banyak generasi muda yang membangun berbagai komunitas ‘hijau’, menciptakan program untuk melestarikan bumi, mendirikan kampong hijau, dan juga menciptakan berbagai benda yang berfungsi untuk mengurangi pemanasan global, seperti Tong Komposer (berfungsi untuk mendaurulang sampah rumah tangga menjadi kompos) dan Bagoes bag (berfungsi sebagai pengganti kantong plastik dan untuk mengurangi konsumsi akan plastik).   

Hal diatas menunjukkan berbagai semangat generasi muda yang tak pernah padam untuk dapat membuat bumi menjadi nyaman untuk ditinggali. Semua itu nyata untuk tujuan yang satu : mengurangi pemanasan global. Jika generasi muda saja semangat, mengapa yang senior tidak?

Iklan

One thought on “Kita yang Muda, kita yang bisa!

  1. Ping-balik: Media Indonesia « precioustrash

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s