Etanol, Kelapa Sawit, dan (akhirnya bicara) Perubahan Iklim

Di kereta yang membawa saya ke KlimaForum, acara pendukung COP15, saya bertemu dengan seorang pria yang ternyata merupakan staf pemerintahan Brazil. Kami mengobrol cukup lama, dan saya baru menyadari betapa miripnya Indonesia dengan Brazil. Kedua negara ini memiliki masalah yang kurang lebih sama, deforestasi hutan dan terlalu banyak kendaraan pribadi di dalam negara tersebut. Untuk masalah yang kedua, ia menyarankan untuk menggunakan etanol sebagai pengganti bensin, seperti yang sudah dilakukan di Brazil, dan pada akhirnya membuat mereka tidak harus mengimpor minyak lagi.

Saya termenung, sambil ia berpamitan untuk pergi, dan teringat film yang saya tonton di malam sebelumnya. Judulnya ‘Palm Oil in Indonesia’. Film ini merupakan film dokumenter dari Friends of Earth Indonesia, atau yang biasa disebut WALHI (Wahana Lingkungan Hidup). Dalam film tersebut, WALHI mengusahakan advokasi untuk suku Rimba di Riau. Hutan tempat mereka tinggal tiba-tiba dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit oleh salah satu perusahaan besar. Beratus-ratus pohon ditebang dengan entengnya dan dengan cepat berubah digantikan oleh pohon-pohon besar bernama kelapa sawit. Tanah tempat tinggal mereka tidak lagi nyaman untuk ditinggali dan hanya hawa gersang yang tersisa. Perkebunan kelapa sawit, walaupun sama-sama merupakan tanaman, tidak memiki fungsi yang sama dengan hutan. Hutan mengurangi karbon emisi, sementara kelapa sawit justru meningkatkan karbon emisi, mulai dari penanamannya sampai cara pengolahannya.

Kembali lagi ke etanol. Etanol pun memiliki prinsip yang kurang lebih sama dengan perkebunan kelapa sawit. Etanol yang berasal dari tebu harus mengorbankan beratus juta hektar hutan untuk membuat perkebunan tebu baru. Kelapa sawit dan tebu yang dipergunakan untuk pengganti bahan bakar minyak, dengan tujuan pengurangan emisi, ternyata justru menambah karbon emisi dengan signifikan. Hal ini sudah terbukti di Indonesia yang menyandang predikat negara ketiga penghasil emisi karbon terbesar di dunia akibat deforestasi hutannya. REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation), yaitu bantuan yang diberikan negara maju kepada negara berkembang untuk perbaikan hutan ternyata justru makin menyuburkan pembukaan perkebunan kelapa sawit baru, yang artinya semakin memperparah deforestasi hutan.

COP15 seharusnya dapat menjadi ajang untuk membuka mata publik, dan terutama para pemimpin dunia, bahwa hal ini harus segera dihentikan. Permintaan minyak kelapa sawit dari negara maju harus dikurangi, dan bahkan dihentikan, sehingga tidak ada lagi hutan di Indonesia yang harus dikorbankan demi pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit baru. REDD pun harus benar-benar tegas dan tepat dalam meluncurkan dana mereka, yaitu untuk pelestarian hutan tanpa terselip kepentingan pribadi. Pengawasan atas pemakaian dana REDD harus benar-benar ketat agar tujuan yang sebenarnya dapat tercapai, yaitu pengurangan emisi karbon dari sektor kehutanan. RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil), persatuan yang mengeluarkan lesensi bagi perusahan kelapa sawit yang ramah lingkungan, harus benar-benar diawasi dalam pemberian lisensi. Jika ada perusahaan yang tergabung dalam RSPO malah melakukan pembalakan liar harus langsung ditindaklanjuti dengan tegas. 

Indonesia dan dunia harus sama-sama mengetahui dan mengerti akan hal ini. Pihak-pihak di dalam Indonesia harus dapat menjaga kelestarian hutan, dengan didukung oleh pemerintah yang benar-benar menegakkan aturan hukum ramah lingkungan. Negara maju pun membantu dengan mengurangi, bahkan meniadakan permintaan minyak kelapa sawit. Saat pemutaran film ‘Palm oil in Indonesia tersebut, yang ditonton oleh sebagian besar penonton dari Eropa, mata mereka seperti terbelalak kaget melihat kenyataan ini. Mereka baru menyadari bahwa penggunaan minyak kelapa sawit, yang harus diimpor dari Indonesia, ternyata menimbulkan efek yang sangat signifikan bagi peningkatan karbon emisi dunia. Memang ini merupakan hal yang dilematis. Kelapa sawit (dan juga etanol) yang tadinya dianggap dapat menjadi solusi pengganti solar minyak bumi dan diharapkan dapat menurunkan karbon emisi dunia, ternyata malah meningkatkan karbon emisi dengan pembabatan hutan yang menjadi paru-paru dunia.

Sekarang pelan-pelan para ilmuwan dunia sedang mencari solusi pengganti solar minyak bumi, kelapa sawit, maupun etanol yang dapat juga membantu mengatasi masalah karbon dunia. Ganggang adalah tanaman yang dipilih untuk diujicoba dan diteliti untuk menjadi pengganti bahan bakar lainnya. Sambil menunggu solusi yang terbaik, cara yang paling mudah adalah memberitahukan informasi tentang kelapa sawit ini pada teman-teman dan keluarga terdekat, atau bahkan menekan pemerintah negara maju untuk mengurangi permintaan impor kelapa sawit. Seperti yang baru-baru ini dilakukan Greenpeace yang memberitahukan pada dunia bahwa salah satu perusahaan yang tergabung dalam RSPO, Sinar Mas (yang juga terekam dalam film ‘Palm Oil in Indonesia’) melakukan pembalakan liar. Hal ini membuahkan hasil, Unilever yang memasok kelapa sawit dari Sinar as akhirnya memutuskan kontrak kerja sehari setelah menerima laporan dari Greenpeace.

Selain dari masyarakat dan organisasi sosial, PR besar yang sebenarnya ada di pundak pemerintah, yaitu memperbaiki sistem pengolahan kehutanan Indonesia, agar tidak ada lagi pembalakan liar (illegal logging) ataupun kebakaran hutan yang disengaja. Agus Purnomo, Kepala Sekretariat Dewan Nasional Perubahan Iklim, mengatakan bahwa setelah ini Indonesia bertekad tidak ada lagi konvensi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Saya jadi terngiang janji Presiden Susilo Bambang Yudohoyono di dalam pidatonya dalam COP15 kemarin, bahwa Indonesia akan memotong 26% karbon emisinya di tahun 2020. Semoga saja pasca COP15 ini, pemerintah, sesuai dengan penyataan Agus Purnomo, bersungguh-sungguh memperbaiki sistem kehutanan di Indonesia dan janji Presiden SBY dapat benar-benar terwujud. Semoga!

Iklan

3 thoughts on “Etanol, Kelapa Sawit, dan (akhirnya bicara) Perubahan Iklim

  1. Ping-balik: Media Indonesia « precioustrash

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s