Setelah Hutan, Laut kita mau dibawa kemana?

 

Sudah bukan rahasia lagi jika Indonesia melejit ‘prestasinya’ dalam penyumbang karbon emisi berkat deforestasi hutan yang sangat parah. Ada yang mengumpamakan bahwa dalam satu menit, Indonesia kehilangan hutannya sebesar 5 kali lapangan bola. Bayangkan saja, itu baru satu menit! Berapa banyak hutan yang terbuang dalam kurun waktu satu tahun?

Hal ini menjadikan isu hutan sangat penting. COP 15 pun menempatkan isu ini dalam salah satu agenda pentingnya. Tetapi sebenarnya ada lagi masalah yang tidak kalah penting, yaitu masalah kelautan. Indonesia, diwakili oleh Sulawesi, melihat pentingnya hal ini dengan menyelenggarakan WOC (World Ocean Conference) pada Mei 2009 untuk pertama kali.Isu kelautan dengan perubahan iklim sangat minim dibicarakan, maka konferensi kali ini adalah kali pertama para pemimpin dunia membicarakan perubahan iklim dan hubungannya dengan kelautan. Konferensi ini pun dibuat sebagai persiapan untuk menyambut COP 15 Desember lalu.

Pada akhirnya, dalam COP 15 kali ini, memang isu hutan yang lebih disorot, tetapi isu kelautan pun sudah mulai disorot, dan menjadi bahasan dalam beberapa kali side events  COP 15. Tahun ini pun akan digelar WOC yang kedua di Perancis. Semoga saja hal ini membuat isu laut, dalam kaitannya dengan perubahan iklim, menjadi sebuah isu sentral untuk dibahas dalam COP 16 di Meksiko akhir tahun ini nanti. Dan hal ini dapat menyadarkan pemimpin dunia, dan pada akhirnya masyarakat awam, bahwa kita harus bertindak cepat untuk menyelamatkan laut melihat dari dampak negatif yang akan ditimbulkan pemanasan global pada laut.   

Indonesia yang menjadi tuan rumah dalam WOC kali ini merupakan langkah yang sangat baik melihat kondisi laut Indonesia yang sangat memprihatinkan. Indonesia memiliki laut yang kondisinya mirip dengan hutan di Indonesia. Tidak salah jika Indonesia dijuluki negara perairan, melihat lautnya yang sangat luas, dan banyak spesias langka yang hanya hidup di perairan di Indonesia. Sayangnya, kondisi memprihatinkan yang menimpa hutan, juga menimpa laut di Indonesia. Terumbu karang, yang berfungsi seperti pohon, yaitu mengeluarkan O2, sudah banyak yang rusak, bahkan mati.

Hal ini disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, penangkapan hasil laut yang tidak ramah lingkungan, seperti menggunakan pukat harimau ataupun penggunaan bom. Cara-cara ini menyebabkan ikan-ikan kecil ikut tertangkap dan hasilnya menghambat siklus kehidupan dan menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem. Kedua adalah orang-orang yang membuang limbah, baik pabrik maupun rumah tangga, ke sungai. Selain itu anggapan orang-orang di beberapa daerah, yang mengganggap bahwa sungai adalah tempat untuk melakukan segala hal. Tempat untuk minum, mandi, buang air, dan bahkan, membuang sampah. Kedua hal tersebut otomatis menyebabkan laut Indonesia tidak sesehat dulu, bahkan warna dan baunya pun sudah dapat menunjukkan kondisi sungai yang memprihatinkan. 

Beberapa waktu yang lalu, saya melihat tayangan ‘Selamatkan Teluk Jakarta’ yang dibuat oleh Metro TV untuk memperingati ulang tahunnya. Acara yang menurut saya patut diacungi jempol ini, adalah kegiatan untuk membersihkan laut di kepulauan seribu dari sampah-sampah dan juga melepas ratusan terumbu karang ke dalam laut tersebut. Dalam tayangan tersebut juga diperlihatkan terumbu karang di laut kepulauan seribu yang sebagian besar sudah rusak, bahkan mati, karena banyak sampah-sampah disekelilingnya. Semoga saja acara seperti ini dapat menyadarkan masyarakat bahwa laut merupakan tempat yang harus dijaga karena laut merupakan sumber kehidupan yang sangat penting, apalagi untuk Indonesia yang memang merupakan daerah perairan. Kenaikan suhu udara dapat menyebabkan kenaikan air laut pula dan berdampak negatif bagi banyak pihak. Kehilangan sumber air bersih dunia, kehilangan lahan di pesisir pantai, kehilangan mata pencaharian bagi para nelayan di pesisir pantai akibat tidak menentunya cuaca, hilangnya terumbu karang adalah sebagian kecil akibat yang ditimbulkan oleh perubahan iklim terhadap kelautan.

Sebagai individu, kita dapat ikut mengatasi masalah ini dengan tindakan yang sekecil mungkin. Cara pertama adalah menjadi konsumen yang cerdas. Jika permintaan akan hewan-hewan laut semakin berkurang, maka orang-orang yang menangkap hasil laut dengan cara yang tidak bertanggungjawab dapat berkurang. Bukan berarti tidak boleh memakan hasil laut,  tetapi pilih dan pilah hasil laut yang penangkapannya ramah lingkungan. Tabel dari WWF sangat membantu saya untuk memiliki pedoman dalam memakan hasil laut, misalnya saya baru tahu kaau ternyata udang, makanan favorit saya, merupakan satu dari sekian hasil laut yang caar penangkapannya berbahaya. Saya pun mulai menghindari dan lebih memilih makan hasil laut yang lain dibandingkan udang jika mengingat nasib laut kita. Cara yang kedua adalah jangan pernah untuk membuang sampah sembarangan, dan jika mau sedikit repot, daur ulang sampah kita agar tidak berakhir di sungai. Hal ini juga membantu mengurangi penumpukan sampah di TPA agar tidak terjadi lagi peristiwa orang meninggal karena gas dari sampah yang sudah diambang batas di bantar gebang. Yang ketiga adalah memilih liburan yang cerdas, yaitu snorkeling sambil menaruh terumbu karang yang masih bagus.

Banyak sekali hal-hal sederhana yang akhirnya dapat menghindari kita dari bencana besar. Mulai dari sekarang mulai perubahan kecil untuk membuat perubahan yang lebih besar.

Iklan

4 thoughts on “Setelah Hutan, Laut kita mau dibawa kemana?

  1. Tidak cukup… acara seperti “selamatkan teluk Jakarta.” saya pikir itu lebih merupakan “pesan sponsor” bagi Metro.

    Ini adalah masalah multidimensi yang menurut saya tidak bisa dilaksanakan dengan saran-saran tindakan yang sama dengan yang disarankan kepada masyarakat eropa misalnya.

    Masyarakat kita masih “berjuang” bahkan untuk hidup, level produksi bangsa kita secara keseluruhan masih pada tingkatan “subsistence” dan ini memberikan pembenaran terhadap segala macam sub-produk dari proses konsumsi (dan kita tidak pernah naik kelas dari tingkatan ini)

    Cina memberikan pelajaran, untuk naik kelas, suatu bangsa harus membayar harga yang sangat mahal, tahun 2009 semua pengamat takut bahwa Cina akan overburned, melihat bagaimana rakusnya mereka menghabiskan sumber daya alam, belum lagi proyek dam sungai Yangtzee yang menurut kebanyakan pengamat disebut sebagai proyek “gila”.

    Sudah banyak penelitian yang menyatakan bahwa kondisi polusi di wilayah Cina adalah bagian dari yang terburuk di dunia (walaupun tidak membutuhkan penelitian yang terlalu ilmiah untuk bisa melihat fakta ini), tapi lihat posisi mereka di perekonomian dunia saat ini, dan terkait dengan itu, posisi mereka di kancah politik dunia.

    Tindakan cerdas pada level konsumen individu memang membantu, tapi tidak signifikan, dan informasi seperti ini tidak pernah sampai pada alam pemikiran rakyat kebanyakan. Media (televisi, karena kita penggemar televisi) harus membantu, tapi apa daya mereka ketika daya tahan mereka juga ditentukan oleh dana dari produsen yang hanya bertujuan untuk mendorong konsumsi produk mereka?

  2. Saya kira acara seperti ‘Selamtkan Teluk Jakara’ dapat membuat penonton melihat secara langsung bagaimana perbuatan remeh mereka (seperti buang sampah sembarangan) berdampak besar bagi kondisi laut. Memang tidak cukup hanya satu, tetapi saya rasa harus lebih banyak acara semacam ini ada untuk Indonesia. Dan lebih bagus kalau yang sustain, tidak hanya musiman.
    Saya rasa saran untuk pilah/ih seafood tidak hanya untuk masyarakat Eropa, tapi dapat dilakukan oleh masyarakat seluruh dunia. Kalau masyarakat tidak dapat membeli seafood, mungkin restoran seperti Decost sudah tutup, bung. tapi kenyataannya restoran ini terus berkembang, bahkan sampai diluar Jakarta. Saya hanya ingin mengajak konsumen seafood untuk menjadi konsumen yang cerdas.
    mungkin terlihat remeh dan sepertinya tingkat grassroot tidak dapat menghasilkan efek yang signifikan. tapi kalau dipikir ulang, produsen yang katanya mencemari lingkungan itu kan berproduksi untuk konsumen, kalau konsumennya semakin hari semakin menurun, mereka akan mengurangi laju produksinya yang tidak ramah lingkungan tersebut.
    Ralat sedikit, penyumbang emisi terbesar adalah As, baru Cina, setelah itu diikuti Indonesia. Dan walaupun Cina lebih besar sumbangan emisinya dari kita, saya dapat mengatakan bahwa ia lebih BAIK dari kita, setidaknya karbon emisi mereka dari hasil produksi barang2 untuk seluruh dunia, sedangkan kita hanya bakar2 hutan..
    Jadi saya rasa sambil kita mem’push’ dan mengawasi apa yang sudah dan akan dilakukan pemerintah Indonesia untuk memenuhi janjinya menurunkan 26% karbon emisi, kita juga bisa kok membantu dari level grassroot sekalipun, dari hal kecil yang kita anggap remeh sekalipun.
    toh, buang sampah yang terlihat remeh dapat merusak hampir separuh terumbu karang yang ada di Indonesia, saya percaya TIDAK membuang sampah sembarangan akan dapat membantu mengembalikan terumbu karang yang hilang.
    Terimakasih. Senang berdiskusi dengan Anda.

    • “Ralat sedikit, penyumbang emisi terbesar adalah As, baru Cina, setelah itu diikuti Indonesia. Dan walaupun Cina lebih besar sumbangan emisinya dari kita, saya dapat mengatakan bahwa ia lebih BAIK dari kita, setidaknya karbon emisi mereka dari hasil produksi barang2 untuk seluruh dunia, sedangkan kita hanya bakar2 hutan..”

      terima kasih ralatnya, ya, saya juga sadar tentang itu, ketika menteri-menteri kita ditanya tentang apa yang bisa kita jagokan untuk menghadapi free trade dengan China, mereka malah memberi contoh hasil-hasil tambang dan produk mentah lainnya, mengerikan.

      Saya rasa saya terlalu skeptis, terima kasih buat eye-openernya, selamat berjuang disana.

  3. ya sama-sama, terimakasih komennya. really make my day to discuss this topic with others 🙂
    Ayo kita sama-sama berjuang untuk bumi yang lebih baik 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s