Dan saya bernostalgia sejenak dengan Malory Towers

Siapa yang tidak kenal Enid Blyton? Wanita dengan segudang ide kreatif ini merupakan salah satu penulis cerita anak yang dikenal di penjuru dunia. Entah sudah berapa buku yang dihasilkannya dan dilahap oleh anak-anak di seluruh penjuru dunia, termasuk..saya. Ya, saya sangat suka cerita karangan Enid Blyton, terutama serial Malory Towers. Keenam seri bukunya membuat saya ingin sekali sekolah di asrama *jauh sebelum saya mengenal Hary Potter*. Darren (tokoh utama dalam serial ini) dan genk-nya, untuk pertama kalinya, membuat saya jatuh cinta dengan sekolah.

Letak sekolah, pemandangan, dan segala hal yang diajarkan oleh Malory Towers langsung membuat saya terpikat dan berandai-andai kalau saya dapat memiliki kesempatan untuk bersekolah di tempat seperti itu. Hal terpenting yang diajarkan oleh Malory Towers dan selalu terngiang oleh saja adalah tentang ajaran seseorang untuk memiliki kepribadian yang baik. Nona Grayling, sang kepala sekolah, selalu memberikan wejangan pada murid baru, yang isinya:

“Bagiku, bukan mereka yang lulus ujian serta menerima penghargaan yang kuanggap sebagai keberhasilan sekolah ini. Memang itu semua baik. Tetapi yang lebih kuutamakan adalah mereka yang bisa belajar untuk memiliki hati yang besar dan baik, cerdas serta terpercaya; wanita-wanita yang bisa diandalkan oleh sekelilingnya. Dan yang kuangap gagal adalah mereka yang tak mampu mempelajari itu semua disini.”

Singkatnya saya menjuluki itu ‘mental juara’. Sering kali kita memacu anak menjadi juara di berbagai bidang, dan terlupa untuk mendidik anak memiliki ‘mental juara’ itu sendiri. Sebenarnya ‘mental juara’lah yang menjadikan kita ‘sang juara sejati’. Tanpa perlu embel-embel pemenang penghargaan atau juara nasional, seseorang yang memiliki ‘mental juara’ akan memiliki kharisma yang menjadikannya pemimpin dan dihargai dimanapun ia berada. Itulah yang saya lihat pada Darrel, tokoh utama dalam serial ini, ia bukanlah juara pertama disekolahnya, bukan pula gadis yang menyabet berbagai penghargaan, tetapi ia akhirnya menyandang jabatan sebagai Ketua Murid, karena ‘mental juara’nya tersebut.

Sekarang, saya bekerja di sebuah sekolah. Saat pertama kali saya mengijakkan kaki disana, yang pertama kali saya lihat adalah kolam renang, dan saya pun langsung teringat Malory Towers yang juga memiliki kolam renang yang indah. Beberapa bulan di sekolah ini pun juga banyak membuat saya teringat pada Malory Towers. Sejak kecil anak diajarkan untuk mandiri, untuk memikirkan konsekuensi atas segala hal yang dilakukan (dan bukan mengerjakan sesuatu karena terpaksa untuk menghindari hukuman). Sekolah ini pun mengerti bahwa setiap anak memiliki kepribadiannya yang unik dan memfasilitasi keunikan dan perbedaan tersebut.

Saya bersyukur Indonesia memiliki sekolah seperti ini, dan saya pun sangat berharap makin banyak sekolah-sekolah di Indonesia seperti Malory Towers, agar anak-anak Indonesia menjadi anak-anak yang bermental juara. Agar Indonesia menjadi negara yang lebih baik lagi. Agar Indonesia memiliki bibit-bibit unggul yang bertekad membangun negara, bukan membangun diri dengan menghancurkan negara.

Ya..dan impian masa kecil saya pun masih melekat jelas, saya ingin sekali ke Inggirs, tempat dimana Malory Towers berada dan tempat dimana seseorang sehebat Enid Blyton dilahirkan sehingga dapat membuat buku seindah Malory Towers. Saya ingin sekali ‘mencuri’ ilmu dari Inggris dan terbang kembali ke Indonesia untuk membangun sekolah-sekolah yang membangun muridnya ‘bermental juara’. Sambil berandai-andai, untuk sekarang saya cukup puas dengan membaca kembali Malory Towers deh. Tapi cita-cita itu masih ada, dan semoga segera terwujud. Inggris..wait for me ^^

Iklan

3 thoughts on “Dan saya bernostalgia sejenak dengan Malory Towers

  1. baru kali ini dibuat yakin seyakin-yakinnya, (gak mau ngaku kalo emang baru tahu..hehehe) bahwa enyd blyton is a woman instead of a man. Whatever people say that I’m a Patriarchy who is trying to be called as a feminist yet not really want to be, but I thought only men can do such an Enyd Blyton do…what makes me look even more stupid is, for so long that I have adored him, eventually just now I know that ‘him’ is ‘her’ (or I once noticed but subconsciously unnoticed) anyway bravooo..!! dan salam kenal dari kota dingin yg terkenal dengan bunga, apel dan baksonya…:)

  2. Ping-balik: British Council Indonesia - NOW 60 » Blog Archive » Ini dia tulisan peserta

  3. wow.. we have same similar wrong thought. I always thought he is a man until.. four your ago when i’m googling his (and become her) name. haha.. i’am totally shock and amazing that there is someone who have similar thought like me ;p
    Dari Malang? wow..saya juga lahir di malang..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s