Hitam/Putih, Abu-abu?

Saat menonton Grey Anatomy, ada adegan yang menarik perhatian saya,yaitu saat Owen marah sama cristina, karev, dll, gara2 mereka memperlakukan pasien seperti ‘mainan’ mereka. Mereka berebut untuk memilih pasien seolah-olah mereka memilih mainan baru. Mereka sangat tertarik sama pasien, tapi bukan untuk menyembuhkan mereka atau demi tujuan mulia lainnya, melainkan untuk kepuasan pribadi mereka sebagai seorang dokter bedah!!

 

Adegan ini membuat saya jadi teringat beberapa bulan yang lalu, saat saya melakukan penelitian di Jogja dengan beberapa teman lainnya. Kami merencanakan waktu 2 minggu untuk mengambil data dsb. Dari Jakarta, kami kira kami sudah tahu siapa yang menjadi subjek kami, wawancara, dll, selesai. Yah..2 minggu waktu yang cukuplah, untuk melakukan pendekatan (berhubung subjeknya anak-anak), membangun rapport, dan melakukan perpisahan dengan baik. Ternyata, semua gak sesuai dengan yang kita bayangkan. Kami harus mencari sendiri subjek kami, apalagi topik yang kami angkat mengenai kematian, sebuah topik yang sensitif, sehingga kami gak bisa langsung ketok pintu-say hallo-pencet tape recorder-wawancara-pulang mengolah data. Ada jalan panjang yang harus kami lalui. Kami harus mengajar di TK, membuat berbagai permainan untuk anak-anak di dukuh, dan mendekati mereka dengan perlahan, sampai mereka gak sadar kami ingin mewawancara dan mengorek-ngorek tentang kejadian pahit yang mereka alami. Ya..kami mengerti dan paham atas apa yang kami lakukan. Lama dan butuh proses memang. Tapi mungkin kami juga sudah terlalu lelah, diburu waktu dan banyak anak yang tidak sesuai dengan karakteristik penelitian kami, sampai terlontar pernyataan dari salah satu teman saya, “Yaah..di Tk x gak ada lagi anak yang ortunya meninggal” (kurang lebih seperti itu). Kami tahu mungkin pernyataan itu terdengar sangat tidak empati ya? Tapi kelelahan kami membuat ketidaksadaran teman saya mendorongnya untuk membuat pernyataan seperti itu. Dan kami pun mengiyakan tanpa perasaan bersalah. Saat evaluasi hal tersebut menjadi salah satu hal yang dikeluhkan oleh asdos kami. Dan kami pun tersadar, ya..kami salah. Ya..kami para calon psikolog, yang seharusnya memiliki stock empati berlebih, tidak boleh mengatakan dan merasakan hal seperti itu. Seharusnya kami bahagia kalau mendatangi sebuah TK dan di TK tersebut tidak ada anak yang anggota keluarga yang tidak meninggal. tetapi mungkin kami sudah terlalu lelah. Yah..kami juga manusia biasa.

 

Manusia, terkadang dalam hidupnya, tanpa sadar, karena berbagai alasan, melakukan hal-hal yang tidak kita duga sebelumnya. Coba bayangkan, para dokter dalam serial grey anatomy itu melakukan hal yang baik kan? Menyelamatkan orang dengan pembedahan.that’s it! Kami, sebagai peneliti, ingin membuat cara konseling yang baik dengan cara melakukan wawancara dengan para korban, gak peduli caranya apa. Seharusnya kalau mau dibuat sederhana, ya..hanya itu saja.. daerah putih & hitam, gak ada abu2.. mereka melakukan kebaikan, gak peduli caranya apa, gak peduli tujuannya apa, ya..mereka baik.

 

Kalau itu yang terjadi, yang jadi menyebalkan adalah ketika kita melakukan kejahatan. Kamu salah ya..dihukum. gak peduli apakah kita mencuri karena harus menyelamatkan nyawa seseorang yang sudah sekarat. Alasan tidak diterima, yang penting adalah wujud konkrit. Benar/salah. Itu saja. Apakah kita seperti itu? Makhluk yang mengaku sebagai makhluk sosial? Enggak kan? Jadi..kenapa mulai dari sekarang kita gak mulai melihat sesuatu dari sudut pandang lain. Coba sesekali meminjam kacamata orang lain untuk mengganti kacamata kita, dan mungkin Anda dapat menjadi terkejut, ada begitu banyak alasan dan kompromi dibalik hanya sekedar ‘baik/buruk’, dan alasan + kompromi dapat merubah ‘baik menjadi buruk’ dan ‘buruk menjadi baik’, karena tidak ada yang benar-benar hitam dan putih di dunia ini. Kita..semua.. ada di area abu-abu.. Believe me.. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s