Vegetarian? Kenapa Enggak..

Vegetarian..

 

Apa yang Anda pikirkan saat mendengar kata tersebut? Jika ini ditanyakan pada saya beberapa bulan yang lalu, mungkin hal yang langsung terlintas dalam benak saya adalah seseorang yang berpikir terlalu jauh, penyayang binatang, atau orang suci. Pokoknya sesuatu yang  “Bukan gw banget!!”. Saya pikir, di lingkungan yang menuntut hidup serba cepat saat ini, rasanya tidak terbayang, kalau saya harus memasak sayur asem, cap cay, atau aneka sayur lainnya, demi menjadi seorang vegetarian. Terlebih lagi, makanan di kantin kampus, saya yang notabene menyediakan aneka macam daging dan ayam dengan berbagai bentuk dan variasi. Makanan yang ada di mall-mall atau restoran pun, rasanya, hanya menyediakan sedikit sekali sayuran. Jadi..rasanya benar-benar sesuatu yang mustahil untuk menjadi seorang vegetarian.

 

Beberapa bulan yang lalu, saya baru tahu kalau ternyata teman saya adalah seorang vegetarian. Saya hanya berdecak kagum melihat dia. Benar-benar tidak terbayang di benak saya untuk menjadi seorang seperti dia. Selain itu, Vika, teman kampus saya, juga pernah berkata, ‘Gw mau jadi vegetarian, ah, karena gw gak tahan kalo ngebayangin gimana binatang-bintanag itu dibunuh’. Dan masih segar di ingatan saya, bagaimana waktu itu saya menentang dia, “Mana bisalah, di kampus kita ini, jadi vegetarian, secara makanannya ayam semua. Nanti aja kalau loudah kerja.” (maksudnya akan repot) 

 

Tetapi..beberapa belas hari yang lalu, sebuah buku (buku berjudul “GLOBAL WARMING”, yang dapat didownload secara gratis di www.hidupmulia.wordpress.com) mengubah pandangan saya. Dari situ, saya merasa malu sekaligus kagum, mengapa selama ini, saya yang menggembar-gemborkan diri menjadi seorang pencinta lingkungan. Ternyata..sama sekali tidak tahu, bahwa ada cara yang paling mudah dan tidak mengeluarkan banyak energi untuk menyelamatkan bumi kita, untuk mengurangi pemanasan global?? Yaitu..dengan menjadi seorang ..Vegetarian.

 

Lah..apa hubungannya? Pasti itu yang terlintas di benak Anda. Itu juga yang muncul di benak saya ketika belum mengetahui akan hal ini dan melihat spanduk “Selamatkan Bumi, Jadilah Vegetarian”. Rasanya benar-benar gak masuk diakal dan gak ada hubungannya, antara mengganti pola makan dengan penyelamatan bumi. Tapi..jika kita berpikir sejenak mengenai asal dari sate, hamburger, rendang, yang ada di piring kita saat makan malam, mungkin Anda akan mengerti apa yang saya maksud. Seperti yang kita semua tahu, daging-dagingan yang kita makan berasal dari peternakan. Nah, peternakan ini bukanlah sebuah industri yang murah. Sebut saja, pembiayaan listrik untuk lampu, mesin pemotong daging, mesin pendingin daging, dll; transportasi dari peternakan ke distributor dan konsumen; sumber-sumber pendukung yang lain, seperti suntikan hormon dan vitamin-vitamin. Seluruh energi tersebut membutuhkan bahan bakar fosil (seperti batu bara), yang merupakan bahan bakar yang tidak dapat diperbaharui, emisinya pun turut berperan dalam penumpukan gas rumah kaca. Fakta yang lebih mengejutkan, ternyata 2/3 hasil dari lahan pertanian disalurkan untuk sektor peternakan; dan berarti hanya 1/3 nya saja yang disalurkan untuk manusia. Dan setelah dikalkulasikan, makanan untuk peternakan sapi saja dapat menyedot makanan yang cukup untuk 8,7 miliar orang di dunia(lebih dari populasi orang di dunia). Jadi, kalau bisa diandaikan, jika semua orang bervegetarian, maka hasil pertanian yang tadinya 2/3nya untuk sektor peternakan, dapat dialihkan untuk manusia. Logisnya, kalau kita bisa mencerna padi dan gandum sendiri, mengapa harus melalui bantuan sapi untuk memakan hasil tani, baru kita makan sapi tersebut??

 

Dari hewannya sendiri, ternyata juga menjadi penyumbang gas rumah kaca yang cukup besar. Sebut saja sapi yang secara alami memang mengeluarkan metana dari dalam perut selama proses mencerna makanan (metana merupakan gas dengan emisi gas rumah kaca yang 23 kali lebih buruk dibandingkan CO2). Selain itu, kotoran hewan ini juga mengandung NO2 (mengandung emisi gas yang 300 kali lebih buruk dibandung CO2). Sebenarnya hal ini tidak menjadi masalah, tetapi yang menjadi masalah adalah TERLALU BANYAKnya populasi hewan ternak ini akibat permintaan pasar yang juga banyak mengakibatkan hal ini menjadi berbahaya. Seperti kotoran hewan yang sebenarnya bisa diolah menjadi pupuk urea, tetapi..karena saking banyaknya jumlah hewan tersebut (di AS saja, hewan tersebut dapat menghasilkan 39,5 ton kotoran per detik), sebagian besar kotoran tersebut pun tidak dapat diolah dan akhirnya dibuang ke sungai (yang mana juga menyebabkan pencemaran air bersih).

 

Hal ini diperkuat oleh perkataan Rajendra Pachauri, ketua dari panel perubahan iklim PBB yang juga pemenang hadiah Nobel, bahwa untuk mengerem global warming, maka yang harus dilakukan adalah tidak makan daging, kendarai sepeda, dan jadilah konsumen yang hemat. Ditaruhnya ‘menjadi vegetarian’ di urutan pertama menunjukkan keseriusan dampak dari hal ini. Seperti terlihat dalam laporan PBB yang dirilis November 2006, bahwa 18 % emisi gas rumah kaca berasal dari pemeliharaan hewan-hewan ternak. Buku yang saya baca juga menyebutkan bahwa sebuah penelitian yang mengatakan bahwa dengan menjadi vegetarian maka akan menyelamatkan setengah hektar pohon setiap tahunnya. Bahkan perbandingan lebih dahsyatnya, seorang vegetarian yang mengendarai SUV Hummer lebih bersahabat dibandingkan seorang pemakan daging yang bersepeda.

 

Menjadi vegetarian pun selain berdampak baik bagi pengereman global warming, juga berdampak baik bagi diri kita sebagai individu. Fakta yang saya baru tahu adalah ternyata tubuh kita disetting untuk lebih dapat menerima sayur-sayuran dibandingkan daging. Oleh karena itu, makanan seperti daging diolah berjam-jam di usus kita, bahkan tak jarang sampai ada pembusukan (yang dapat menyebabkan kanker usus), sementara sayur dan buah-buahan cepat diserap dan diolah oleh usus. Selain itu dengan memakan daging, akan lebih banyak penyakit yang timbul, seperti kolesterol, dll. (untuk lebih jelasnya dapat dilihat di www.hiduplebihmulia.wordpress.com, folder ‘cinta kasih’).

 

Saya sendiri setelah membaca artikel demi artikel semakin tertarik untuk bergerak ke pilihan hidup vegetarian. Hal yang tadinya saya kira berat menjadi lebih ringan dan masuk akal untuk diikuti. Misalnya, Tadinya saya berpikir, saya memang suka sayur-sayuran, tetapi..memakan itu semua SETIAP HARI tanpa adanya daging? Duh..rasanya gak sanggup deh. Setelah saya pikir-pikir lagi, kan sekarang ada gluten (protein tepung yang rasanya mirip daging), jadi saya tetap dapat makan-makanan yang bervariasi. Lagipula, di mall-mall pun sekarang sudah mulai ada yang menyediakan makanan untuk vegetarian, seperti misalnya kebab veggie. Dan bukan hal yang mustahil, jika semakin banyak orang beralih menjadi vegetarian, maka akan semakin banyak pula variasi makanan untuk pencinta sayur dan buah-buahan ini.

 

So..sekarang saya pun mencoba menjadi vegetarian selama satu hari dalam seminggu (hehe..semua butuh proses). Semoga di akhirnya, saya dapat menjadi vegetarian sejati. Kalo kamu sendiri bagaimana?        

Iklan

10 thoughts on “Vegetarian? Kenapa Enggak..

  1. kalo menurut gw sih percuma aja kalo mau vegetarian.. faktor utama udah jelas lingkungan.. emangnya lingkungan lw udah mendukung?? lw kan mahasiswa.. udah tau kan kalo misalnya disitu nggak mungkin semua penjualnya rela cuma jual sayur doang.. emang mahasiswanya kambing??

    lagian juga anak2 juga males kalee kalo disuruh makan sayur doang.. kan nggak ada rasanya.. terus lw bilang kalo misalnya kan sekarang ada restoran vegetarian.. malah ada steak yang terbuat dari sayuran semua.. ya, lw liat juga lah itu harganya berapa.. cocok nggak sama keadaan ekonomi Indonesia saat ini..

    tulisan lw ini juga paling mau lw tujuin ke orang2 menengah keatas kan?? bukan langsung ke penjual kantin.. jadi percuma aja.. mau semua anak2 Indonesia vegetarian pun tetep aja kalo masi ada yang jual daging.. nggak ngaruh..

  2. Humm2..
    benar sekali saudara Aqsath
    Faktor lingkungan sangat berperan..
    Seperti yang saya bilang di paragraf pertama
    Itu juga yang menjadi keengganan saya untuk ber’vegetarian ria’
    Tetapi kalau ada kemauan pasti ada jalan..
    Dan saya juga tidak berkata bahwa SEMUA penjual harus menjual sayur lho
    Anda bisa membawa makanan dari rumah, atau..pasti ada kan satu dual penjual yang menjual sayur?
    Sepertinya Anda harus membaca lagi lebih seksama artikel yang saya buat..

    Untuk masalah malas memakan sayur?
    Tadi pun sudah saya bahas
    Bahwa sekarang ada yang namanya gluten
    yaitu tepung yang rasanya mirip daging
    Jadi..sayur2 pun dapat dikreasikan sedemikian rupa

    Umm..kalau masalah gak cocok dengan Indonesia
    Karena HARGANYA
    Bisa Anda jelaskan, itu perbandingan darimana?
    Karena kemarin saya baru dari kedai kebab
    Dan ternyata kebab yang isinya daging lebih MAHAL dibandingkan kebab yang isinya sayuran
    Secara logika saja tempe lebih murah dibandingkan ayam
    Jadi rasanya saya berpandangan berbeda dengan yang Anda katakan “gak cocok dengan ekonomi Indonesia sekarang”
    Karena justru COCOK dengan ekonomi Indonesia sekarang
    Di saat krisis ekonomi dan bencana kelaparan melanda kita
    mengganti daging dengan tempe tahu, tentu lebih terjangkau bukan? 😉

    • Mari kita pakai ke arifan jgn pakai kepintaran dan ke ego kita ,lalu kita renungkan pasti anda akan dapat jawaban lebih ber vegetarian .

  3. haduh.. kalo debat gini mah mending di YM aja.. gw kan bilang sayuran yang rasanya ENAK itu harganya mahal.. kalo yang murah2 gitu mah nggak ada rasanya.. males juga orang makannya.. yang sekarang orang incer itu ENAK dan MURAH.. lagian bawa sayuran dari rumah.. males betul.. sekarang kondisinya orang udah jarang lagi yang mempunyai waktu untuk menyiapkan bekal dari rumah.. mereka lebih suka yang instan.. malah kalo bisa mending beli di luar aja..

    Precioustrash said:
    “Ya..persepsi orang memang beda2 sih antara mana yang enak dengan yang tidak..
    Tapi..yang saya tekankan adalah urgensi dari ‘mengapa saya beralih menjadi vegetarian dan mengapa saya pun turut mengajak orang lain turut serta?’
    Karena kondisi bumi yang sudah semakin parah (dan itu membutuhkan bantuan kita untuk memulihkannya)
    Bahkan ilmuwan memprediksi es di Artik akan mencair pada tahun 2008
    dan kalau itu terjadi, bukan hal yang mustahil jika akan terjadi hal yang digambarkan seperti kiamat, dimana kadar oksigen agar menjadi minim di bumi (Untuk lebih jelasnya dapat browsing di internet)
    Saya sendiri tidak memaksakan diri, dan orang lain, untuk menjadi vegetarian sejati
    saya baru mencoba satu hari dalam satu minggu
    Kalau masalah kerepotan, di kantin kampus saya, masih ada stand yang menyediakan sayuran
    walaupun memang jumlahnya tidak banyak
    Ok? semoga bisa menjawab pertanyaan saudara..
    dan jika memang ingin berdiskusi lagi, saya tunggu 😉

  4. eh duduwwll….

    gw GA BILANG GITU KALIIII…..

    tu kaannnn,,, terbukti-duduwll…

    udah ‘ngutip’,, pake dikasi ‘perubahan2 + penambahan2 tanpa ijin’ lagi.. ;p

    gw kan ga bilang gitu duduuuuuwwll..

    gw kan bilangnya,, “gw ga tega makan-nyaaa”

    bukan “gw gak tahan kalo ngebayangin gimana binatang-bintanag itu dibunuh”…

    gila-gila-gila-gila-gilaaa…

    BEDA BANGET KAAAAAAAAAAANNNNNNNNN….!!!???

    dasar duduwll…

    Precioustrash said:
    “dudul..gw kan gak bikin verbatim pas lo ngomong
    So..ya agak melenceng2 dikit wajarlah
    gak tau apa kata Bapak Miller, kalau ingatan manusia itu terbatas (7+/-2)
    jadi MANUSIAwi, dudul..
    Karena gw MANUSIA
    (emang kaya lo ;p)
    Btw, yang penting intinya sama kan??”

  5. kalo sayur biasa ya emang murah
    yah…, maksud aqsath gluten kali…
    itu kan emang muahal…
    seinget gw lebih mahal dari daging malah
    trus sayur organik juga mahal (yah, sama aja sih sebenernya, apa coba yang ga mahal sekarang ini?)

    menurut gw sih, jangan karena ada fakta ini, lantas semua orang kudu jadi vegetarian…
    orang2 yang ada di industri peternakan mau dikemanain coba? kan ga mungkin disuruh jadi petani semua?
    lagian, jadi pemakan daging kan juga tetep baik, soalnya ada kandungan gizi dalam daging yang ga bisa dipenuhi sama sayuran aja (begitu juga sebaliknya)

    lagian…, manusia itu diciptain buat jadi pemakan segala alias omnivora
    urutan di rantai makanan, sapi ya jadi makanan manusia
    jangan dikira, ketika orang berhenti makan daging, sapi jadi makin sedikit. mereka kan ga berhenti berkembang biak, malahan akan jadi makin banyak kan karena ga ada yang “memangsa” lagi? predator alaminya kan udah langka juga (kaya harimau, serigala, de el el)

    jadi intinya, kita tetep butuh orang2 pemakan daging
    sama seperti kita butuh orang2 vegetarian juga
    ini juga buat keseimbangan alam lo…
    yang penting kan disesuaikan porsinya masing2, hehehe….

    Precioustrash said:
    “Terimakasih atas tanggapannya, des..
    Yup..menurut gw pun yang penting adalah KESEIMBANGAN..
    yang menjadi masalah sekarang adalah..
    populasi hewan ternak yang HAMPIR menyamai populasi manusia di dunia
    alias udah berlebih banget..
    (sekitar 6 milyar)
    Nah..itu yang menjadikan salah satu keprihatinan gw..
    di satu sisi banyak banget manusia yang kelaparan
    tapi..di sisi lain, ni hewan2 ternak dikasih makan dan terus menerus diperhatikan (walaupun akhirnya disembelih juga), sampe populasinya berlebih demi keuntungan pribadi semata
    So..jalan keluar yang mudah dan simpel adalah dengan menjadi vegetarian
    Nantinya diharapakan populasinya bisa kembali berimbang
    dan kita hidup dalam sebuah keseimbangan
    antara manusia, hewan, dan alam.. “

  6. gue belum jadi vegetarian sejati sih.. dulu pernah jalanin empat tahun dari 1995 sampai 1999. Nah, sekarang sudah mulai lagi sih, sejak taun 2008 gak pernah makan mamalia lagi.. niatnya juga bertahap.. tahun 2011 mungkin tambah lagi jenis hewan yang gue pantang makan…

  7. Hebaaat.. semangat untuk terus menjadi vegetarian rorygilmore 🙂 *apapun alasannya..

    saya sendiri baru bisa satu minggu sekali sampai sekarang 🙂

    • Saya ingin membagi pengalaman selamat 12 tahun menjadi orang vegetarian , kiata akan dapat banyak keuntungan terutama kesehatan yg mana kalau org sudah sakit br bisa rasakan sehat itu mahal , utk itu sebelum terlambat keluarkan lah sedikit hati welas asih kita untuk menjaga bumi kita untuk anak cucu kita !!! Terima kasih

  8. Ping-balik: 29 Simple Tips To Save Earth « precioustrash

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s