Open Marriage

Waduh..udah lama banget gak ngeposting ya? Umm..daripada blog ini dianggurin mendingan sekarang gw ngeposting salah satu tugas kuliah gw..hehe..Selamat menikmati..

Open Marriage Oh.. Open Marriage 

Era sekarang ini sudah banyak ragam dari hubungan seksual, bukan hanya monogami ataupun poligami semata. Tetapi salah satu yang menarik perhatian saya adalah mengenai isu Open Marriage. Beberapa orang menilai hal ini sebagai perselingkuhan sedangkan beberapa lain menilai ini sebagai sebuah variasi dalam pernikahan monogami. Perbedaan persepsi inilah yang menyebabkan pro dan kontra terhadap gaya pernikahan macam ini. 

           Saya sendiri setuju dengan open marriage sesuai dengan pengertian yang dibuat oleh O’Neil dalam buku Open Marriagenya yaitu pernikahan dimana pasangan memberikan ruang personal pada pasangannya untuk mengembangkan diri dan mengizinkan pasangannya untuk membangun  pertemanan di luar pernikahan (O’Neil, 1972). Karena, menurut saya, pernikahan bukanlah keterikatan yang lantas mengekang pasangannya untuk berhubungan dengan orang lain, asalkan hubungan pertemenan tersebut masih di dalam batas-batas kewajaran, yaitu tidak melibatkan seks. 

Apalagi ditambah dengan kunci sukses utama open marriage yaitu komunikasi terbuka, yang menurut saya, memang harus dimiliki oleh setiap pasangan, tidak hanya yang menganut open marriage. Karena terkadang, wanita merasa posisi mereka ada di bawah pria, sehingga sekedar untuk mengatakan apa yang mereka rasakan saja mereka tidak bisa, yang mengakibatkan pasangan tidak tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh pasangannya.  Salah satu contohnya terjadi dalam fenomena fake orgasme yaitu kesulitan seksual dimana seseorang berpura-pura mengalami orgasme selama melakukan interaksi seksual. Salah satu faktor yang mempengaruhi faking orgasms adalah kurangnya komunikasi (Ellison, 2000; Masters & Lauersen & Graves, 1984). Jadi komunikasi yang terbuka pada pasangan, yaitu saling mengatakan kekurangan pasangan dengan bahasa yang tepat dan memuji pasangan akan membuat hubungan menjadi lebih baik.

Sayangnya, kebanyakan open marriage merujuk pada pengertian yang lebih luas dari pengertian yang dijabarkan oleh O’Neil. Pertemanan diartikan sebagai memperbolehkan pasangan berhubungan seks dengan orang lain di luar pernikahan. Hal ini dilakukan atas nama kebosanan atau variasi dalam pernikahan. Menurut saya, jika ingin membuat variasi dalam pernikahan ataupun mengatasi kejenuhan dalam pernikahan, banyak cara yang dapat dilakukan, seperti bulan madu kedua, mencoba gaya baru dalam berhubungan seks, ataupun banyak cara lain yang dapat dilakukan. Padahal banyak kerugian pasangan yang menjalankan pernikahan ala open marriage ini, seperti resiko PMS (penyakit menular seksual) karena berganti-ganti pasangan dan kecemburuan pasangan (penelitian Buunks B.(1981) dalam www.wikipedia.com).

Lagipula open marriage yang melegalkan hubungan seks di luar pernikahan akan membuat keabsurdan makna dari pernikahan itu sendiri dimana salah satu fungsi dari pernikahan adalah melegalkan hubungan seks pada pasangan yang menjalaninya. Jika pasangan dalam pernikahan itu sendiri dapat sesuka hati berhubungan seks dengan seseorang diluar hubungan pernikahan, walaupun sepengetahuan dari pasangan, lalu apa bedanya antara menikah dan tidak?    

DAFTAR PUSTAKA 

www.wikipedia.com

Crooks, R & Baur, K. 2005. Our Sexuality. China:Thomson Wadsworth

O’Neill,  Nena & George O’Neill (1972). Open Marriage : A New Life Style For Couples. New York : Heart Corporation.  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s